Sedingin dan Semanis Ice Cream



Pancaran sinar matahari yang lembut membangunkanku dari tidur malamku yang indah. Pagi ini aku akan pergi untuk melihat daftar penerimaan siswa disekolah baruku. Tak terasa aku sudah menginjak di bangku sekalah menengah atas. Cemas akan tidak diterima pasti ada, masuk ke sekolah faforit dengan ratusan siswa yang mendaftar membuat rasa optimisku kian memudar. Tetapi aku tetap harus optimis, aku telah mempersiapkan segalanya untuk mengikuti tes masuk ke sekolah itu. Sekarang tinggal melihat hasil dari kerja kerasku itu.
Di ruang makan telah menunggu kedua orang tuaku untuk sarapan bersamaku. Aku anak tunggal, bukan berarti aku dimanja oleh orang tuaku. Namaku Dina Azzahra, keluargaku memanggilku dengan sebutan rara dan kawan-kawanku memanggilku dengan sebutan dina. Perbedaan ini karena rara adalah nama kecilku. Aku sering merasa kesepian saat ditinggal orang tuaku pergi kerja. Aku juga tidak pandai untuk bersosialisasi, itu sebabnya aku hanya mendapatkan 3 orang teman di samping dan depan rumahku, mereka adalah Zakya, Lya, dan Rahma. Aku berteman dengan mereka sejak aku kelas 3 sd. Mereka adalah teman terbaik yang pernah aku punya. Di sekolah kami selalu bersama dari sd, smp dan kami mendaftar di sma yang sama pula. Bosan? Tentu tidak. Kami menikamati saat bersama.
##
Didepan papan penerimaan siswa baru telah berkerumun banyak orang. Badanku kecil, jika aku mendesak untuk melihat pengumuman itu, tentu aku akan terjepit oleh orang-orang yang ada disana. Tidak jauh dari papan penguman itu, aku melihat Zakya.
“dina!”teriaknya.
“hai, ky.. kamu udah liat pengumumannya?”
“sudah.. aku diterima.. kamu sendiri?”
“blom, aku aja baru nyampai..”
“oya, Lya dan Rahma lagi liat pengumuman tu..”
“mereka memang nggak mau kalah dengan orang-orang lain..”
“nah itu mereka..”
“huh pengap benar disana tuh..” keluh rahma.
“ha’a betol betol, cuman mau liat pengumuman jak beh..”tambah Lya.
“gimana hasilnya?”
“kita diterima! Alhamdulillah.. kau udah liat blom din?”
“blom, baru nyampai.. masih ramai orangnya..”
“sambil nunggu kita liat-liat sekolah yu’..” ajak Zakya.
“boleh..”
Kami berjalan-jalan di sekolah itu. Sekolahnya besar banget. Kami pergi ke sebuah kantin dan membeli ice cream. Kami berempat sangat suka ice cream coklat. Dan berjalan kembali ke papan pengumuman itu. Orang-orang yang berkerumun didepannya sudah tidak terlalu ramai. Aku lihat papan pengumuman itu dengan teliti, sampai lah pada namaku Dina Azzahra dan aku melihat keterangannya, disana tertulis ‘Diterima’. Betapa senangnya aku. Aku girang dan melompat-lompat. Tak sengaja aku menginjak kaki pria didekatku.
“maaf aku nggak sengaja..”
“apaan sih kamu! Nginjak-nginjak kaki orang!”
“tapi aku nggak sengja..”
“kamu tuh mirip anak kecil banget ya.. padahal kamu sudah masuk SMA.. rubah donk sikap kamu tu..”bentak orang itu. Aku tertunduk bersalah.
“udah donk.. apa apaan sih kamu.. dina kan udah minta maaf..”potong Zakya.
“Bil, udah selesai blom liat pengumumannya?”kata seorang ibu-ibu dan langsung memotong pembicaraan kami. Ibu itu mengampiri kami.
“kamu kok lama bnget? Bunda udah lama nungguin kamu di parkiran..”
“iya bun.. maafin Bilal ya..”
“eh.. ada gadis-gadis cantik.. kalian temannya bilal ya?”
“bukan tante.. kita baru ketemu..”jawab Rahma dengan lembutnya.
“bukan? eh kamu ngapa sedih?”tanya ibu itu kepadaku.
“tadi aku nggak sengaja nginjak kaki anaknya tante..”
“owh.. nggak sengaja.. maafin donk bilal..”
“iya.. aku maafin.. lain kali kamu jangan kayak gitu lagi ya..”. kami berempat tercengang melihat tingkah lakunya yang berubah 180 derajat yang menjadi lemah lembut dan dia minta maaf langsung setelah bundanya menyuruh.
“yaudah tante dan Bilal pulang dulu ya..”. ibu itu dan anaknya pergi meninggalkan kami.
Mengingat hari juga sudah semakin siang kami pulang. Di pikiranku masih teringat akan tingkah laku anak itu yang aneh, tapi sudahlah itu bukan urusanku.
##
Hari ini aku ada janji dengan kawan-kawanku. Bundanya mau mengajarkan aku, Zakya dan Lya bikin kue. Rumah Rahma didepan rumahku. Saat aku sedang asik-asiknya membuat kue, aku melihat ada beberapa orang yang bertamu kerumahku. Pikirku itu adalah tamu bundaku, ya itu karena hanya bundaku yang sering mengundang kawan-kawannya datang kerumah.
Membuat kue dirumah Rahma telah selesai, tapi orang yang bertamu ke rumahku belum pulang juga. Bunda tidak seperti biasanya menerima tamu selama ini. Aku ingin pulang kerumah untuk melihat keadaan bunda, tapi aku sangat malu untuk pulang. Jika nanti aku pulang maka tamu-tamu bunda akan melihatku dan mengajakku ngobrol, aku sangat malu untuk ngobrol dengan kawan-kawan bunda. Aku tetap dirumah Rahma barsama kawan-kawanku yang lain.
Dari pagi hampir sore aku berada di rumah rahma, tamu bunda belum pulang-pulang juga. Bukannya aku ingin mengusir tamu itu, tapi ini pertama kalinya bunda menerima tamu sampai selama ini.
Beberapa saat kemudian tamu bunda itu pulang. Aku tidak melihat terlalu jelas muka tamu-tamu bunda itu, tapi ya sudahlah aku juga nggak mau ikut campur urusan bundaku. Akupun pulang setelah berpamitan dengan bundanya Rahma dan begitu juga dengan Zakya dan Lya.
Saat dirumah aku melihat bunda membereskan gelas-gelas yang ada di meja tamu. Aku mengahmpiri bunda dan membantu membereskan gelas-gelas itu.
“kamu bikin kue kok lama banget si Ra.. ”singgung bunda.
“sebenarnya tadi siang sudah selesai, cuman Rara takut ganggu bunda..”
“ganggu?”
“tadi bunda ada tamu kan?”
“owh iya.. tadi itu kawan bunda dengan anakya yang datang, tadi sih bunda mau ngenelin ke kamu.. tapi kamu lagi bikin kue.. bunda takut ganggu…”
“kenalin sama kawan bunda?”
“bukanlah Rara.. sama anaknya.. dia baik banget sama bunda, ramah, kalem, dan kayaknya anak yang pinter..”
“ohya? Namanya siapa bun?”
“em.. bunda lupa, namanya ada putih-putih..”
“namanya putih?”
“iya.. bunda lupa, aduh siapa namanya..”
“haha.. katanya mau ngenelin, kok lupa sih..”
“bunda ada ngasi dia nomor kamu ke dia, nanti dia nelpon kamu..”
“ha.. bunda kenapa ngasi nomor aku ke dia?”
“supaya dia bisa nelpon kamu.. bunda ada cerita ke dia, kamu tuh orangnya susah bergaul..”
“lalu..”
“bunda minta dia bantu kamu untuk bersosialisasi.. masa’ dari kamu SD samapi SMA kamu cuma berkawan dengan 3 orang saja..”
“owh.. iyalah bunda..”
##
Hari yang telah ditunggu-tunggu telah datang,hari pertama aku masuk ke SMA, aku di ospek. Pada saat ospek dimulai, peserta ospek yang laki-laki memilih 1 peserta ospek yang perempuan dalam waktu kurang dari 5 menit. Kegiatan ini untuk melakukan sosialisasi kesesama peserta ospek. Saat itu Lya, Zakya, dan Rahma sudah mendapatkan pasangannya. Aku tidak pandai bersosialisasi, jadi memerlukan waktu yang lama untukku mendapatkan kawan baru. Saat waktu yang diberikan telah hampir habis, ada seseorang yang menepuk pundakku dari belakang.
“hai, kamu mau jadi kawan ospek permpuanku?” tanya orang itu. Aku memandangnya dan ternyata dia pria yang kakinya aku injak saat melihat pengumuman.
“kamu?” tanyaku
“owh.. hai.. ( melambaikan tangannya) Gimana kamu mau ?”
“I iya.. boleh..”
“oya.. masalah kita yang kemaren dilupain aja ya.. anggap aja nggak pernah terjadi.. oke!” katanya sambil mengedip kan mata kanannya.
“I iya”. Melihat tingkah lakunya sangatlah manis, beda seperti tingkah lakunya saat pertama kali kami bertemu.
Setelah semuanya mendapatkan pasangannya kami disuruh saling kenal.
“namaku Dina, salam kenal.. aku harap kita dapat menjadi teman baik..”
“namaku Bilal.. iya sama-sama.. oya, aku dari smp faforit di sini..”
“oh ya?”
“iya.. kamu tidak percaya? Nih lihat lambang sekolah ku..”katanya. cara ngomongnya sudah mulai berubah jadi sedikit so’ cool.
Kami berbincang-bincang banyak di situ, dari situ aku udah hampir mengenalnya, kalau dia ini orangnya so’ cool, gaya prioritas nomor 1, dan gengsian. Tapi itu belum pasti, karena tingkah lakunya sering berubah-rubah. Setelah kami berbincang-berbincang cukup lama, kami disuruh mewawancarai senior-senior kami yang ada di situ, kami di suruh menanyakan tentang sekolah kami. Aku dan Bilal mewawancarai senior kami yang bernama Odie.
“bang, prestasi apa-apa saja yang sudah di raih di sekolah ini?” tanya Bilal
“banyak lah.. dari LCC nya, paskip nya, pramuka nya, banyak lah..”
“bang, peraturan di sekolah ini mengikat atau nggak?” tanyaku
“tentu, kita ngospek nggak boleh berlebihan, kita cuma ngarahin adek-adek supaya lebih dekat dengan kita-kita dan lebih mengenal sekolah kita.. jika ada yang bermasalah sedikit, kita sudah di panggil ke bk.. jadi anak-anak di sini taat peraturan.. tapi kalo diluar nakalnya minta ampun..”
“kalau begitu tingkah laku siswa-siwanya sulit untuk diketahui dong.. euh payah..”keluh Bilal.
“iya.. sama seperti kamu..”ejekku.
“apa? Sama seperti aku?”
“iya.. kadang tingkahlakumu seperti anak baik-baik kadang juga nggak..”
“kamu ngejek aku ya?”
“kalian kenapa kelai? Ada-ada saja anak zaman sekarang..”lerai bang Odie.
Setelah itu kami disuruh istirahat. Aku istirahat dengan Lya, Zakya, dan Rahma, aku istirahat misah dengan bilal.
“kau bawa apa din?”
“bawa risoles sama roti isi.. ada yang mau?”
“mau mau..”ucap Lya, Zakya dan Rahma yang hampir serempak.
“Rahma bawa apa?”tanya Lya.
“aku bawa bolu.. Lya mau?”
“iya mau..”
“Zakya dengan Dina mau bolu?”
“iya terima kasih…”ucapku
“makasih.. bunda rahma pandai deh bikin kue enak-enak..”puji Zakya.
“haha.. betul tu betul..”
Waktu istirahat selesai. Kami di pergi ke aula untuk dapat pengarahan dari waka kesiswaan. Setelah mendapatkan pengarahan kami di perbolehkan pulang. Ayahku menjemputku cepat seperti biasa. Ayahku memang nggak mau aku menunggu lama-lama.
##
Seperti malam biasanya aku belajar untuk mempersiapkan pelajaran esok hari. Aku teringat perkataan bunda nanti putih mau meneleponku. Tapi beberapa malam ini sejak bunda memberitahuku tentang Putih, tak ada seorang pun yang menelponku selain 3 sahabatku dan keluargaku. ‘ah sudahlah mungkin dia tak seperti apa yang bunda omongkan, barangkali dia hanya mencari simpati dengan bundaku.. dan mungkin dia tak akan pernah menelponku..’ ucapku dalam hati. Aku pun melanjutkan belajarku.
Tak lama kemudian ada nomor yang tidakku kenal memanggil. Saat aku mau mengangkat panggilan itu terputus. Dan keadaan itu berulang berkali-kali.
“egh ini sangat mengganggu.. jika sekali ini dia hanya miss call, aku akan nonaktifkan hp ini..”keluhku.
Dan nomor itu memanggilku kembali.
“halo..”sapaku.
“halo.. ini Rara?”
“iya, ini Rara.. siapa ini?”
“ini Putih.. salam kenal ya..”
“salam kenal juga, oya maaf ya, bundaku nyuruh kamu nelpon aku..”
“iya, nggak papa.. aku juga seneng kok.. uda di kenalin sama kamu.. bundaku juga nyuruh aku nelpon kamu.. jadi nggak papa nyantai aja..”
“owh gitu ya.. bukan berarti aku terpaksa ngenal kamu ya.. aku senang kok bisa kenalan dengan kamu..”
Mulai pada saat itu kami saling berkomunikasi, bertukar cerita, dan pengalaman. Putih lumayan sering menelponku untuk bercerita dan memberitahuku supaya dapat kawan banyak. Dia juga mengejariku bagimana cara untuk memebedakan kawan yang baik dan yang kurang baik untuk di jadikan kawan.
##
Hampir satu semester aku bersekolah dan aku sudah mulai pandai bergaul. Kawan-kawanku juga bertambah banyak, bukan berarti aku melupakan kawan lamaku. Aku pun sudah menceritakan tentang Putih ke Zakya, Lya dan Rahma.
Seperti istirahat yang kemarin-kemarin aku, Zakya, Lya, dan Rahma istirahat dengan menyantap ice cream yang dingin dan manis itu. Kami duduk-duduk di kantin sambil menunggu bel masuk berbunyi. Saat mengobrol dengan mereka terucaplah pertayaan dari mulut Zakya tentang Putih.
“sebenarnya Putih itu bagimana si rupanya?”tanya zakya. Kami terdiam sejenak, dari sekian lama aku dan Putih melakukan hubungan baik tetapi tak pernah terpikir olehku tentang rupanya Putih.
“betul juga kata Zakya.. kamu atau dia nggak pernah ada yang ngajak ketemuan?”tanya Lya
“nggak ada.. tapi yang jelas aku tau sifat-sifatnya dari omongkan yang dia keluarkan..”
“kira-kira apa sifatnya?”
“baik, lemah lembut, perhatian, peduli, dan bijak.. kira-kira seperti itu..”
“waw.. lemah lembut? Dia perempuan?”tanya Rahma.
“sepertinya begitu.. dia itu ngomongnya pelan banget..”
“yaudah kita positif thingking aja.. dia tu wanita yang anggun dan manis..”kata Rahma.
“tapi benerlah dia perempuan Din? Suara asli bisa beda dengan suara di telpon loh..”sangkal Zakya.
“dari nama udah Putih, yang mencerminkan kesucian yag biasa dimiliki permpuan dan sifat-sifat yang diceritakan dina udah kearah perempuan..udah lah sekarang anggap dia permpuan aja..”jelas Rahma.
“betol betol, tapi kalau dia laki-laki gimana?”sambung Lya.
“ih udahla.. jangan disambung-sambung.. nanti nggak selesai.. bentar lagi bel, kita masuk sekarang ya..”akhirku.
##
Hari libur semester tengah telah datang. Pagi-pagi ayah dan bundaku telah siap-siap berangkat pergi.
“Rara, ayah pergi dulu ya..”
“pergi ke mana yah?”
“ke tempat kawan ayah.. kalau kamu kesepian kawan-kawanmu ajak main kesini aja ya..”
“iya..”
“hati-hati dirumah ya Ra’..”
Tak lama ayah dan bunda pergi Lya, Zakya dan Rahma datang kerumahku. Karena merasa bosan kami pergi Departemen Store didekat rumahku. Disana kami pergi untuk membaca buku. Lumayan lama kami berada di sana. Saat aku sedang asik-asiknya membaca, aku melihat seseorang yang mirip dengan bunda aku pun menghampirinya.
“bunda?”
“Rara.. kamu kok ada di sini?”
“bosan bun dirumah, Rara kesini dengan Lya, Zakya, dan Rahma.. katanya bunda ke tempat kawannya ayah..”
“sudah selesai, acaranya juga nggak jauh dari sini..”
“owh.. rara lanjutin lagi bacanya ya..”
“oya Ra’ tadi bunda ketemu dengan Putih dengan restaurant itu.. dia memakai baju hijau”kata bunda sambil menunjuk keaarah sebuah restaurant.
“benarkah? Rara, pergi kesana ya bun..”
Aku langsung mencari Lya, Zakya dan Rahma. Aku meminta mereka untuk menemaniku bertemu dengan Putih. Jujur saja ini adalah saat-saat yang menegangkan. Setelah sekian lama aku hanya mendengar suara Putih sekarang aku akan bertemu dengannya.
Setelah sampai didepan restaurant itu, kami melihat 2 orang yang memakai baju warna hijau.
“yang mana Din?”tanya Zakya
“pakai baju warna hijau..”
“ada 2 orang yang memakai baju warna hijau..”
“mungkin yang itu.. dia permpuan yang anggun..”kata Rahma
“eh.. sepertinya Lya kenal sama orang itu..”
“yang pakai baju warna hijau satunya lagi? Siapa?”
“itu.. Bilal..”jawab Lya.
“iya itu bilal..”
“ayo kita kesana”ajak rahma.
Kami pergi menghampirinya. Melihat kami menghampirinya, Bilal merasa kebingungan.
“ada apa kalian berempat ke sini?”
“aku mau cari putih..”
“putih?”
“iya, putih itu kawan dina.. dia sering nelpon Dina, tapi dina nggak tau orangnya yang mana..” jelas Lya.
“Dina? Kamu Rara?”tanya Bilal, kami tercengang mendengar Bilal memanggilku dengan sebutan Rara.
“iya.. dari mana kamu tau nama kecilku?”
“bundamu memberitahuku saat aku dirumahmu..”
“kamu Putih?”tanya Zakya.
“iya, nama panjangku Bilal Putih Azanni..”
“kenapa sikapmu saat menelponku berbeda dari yang di sekolah?”
“disitukan ada keluargaku jadi aku harus bersikap sopan dong..”
“owh.. kami minta maaf ya Bilal.. sebenernya kami mengira kamu adalah seorang perempuan..”
“perempuan? Haha.. tidak apa-apa, kalian juga belum tau kan..”
Setelah saat itu Bilal jadi kawan baikku, Lya, Zakya, dan Rahma. Dan aku pun makin mudah bergaul dengan temen-temen yang lain, karena mereka semua 3 Bidadari manisku dan 1 si putih manisku.

0 komentar:

Poskan Komentar